IBU WENNING

Belum lama
rasanya bercengkrama dengan mereka,jogjajakarta ,kota tempat aku mengenyam ilmu
selama 3 bulan,di kota ini pula aku menemukan banyak pengalaman,warna warni
kehidupan serta merta merasakan lucunya negeri ini.Salah satu nya Ibu Wenning ,sesosok ibu yang tegar,displin,serta
bertanggung jawab pada keluarga. Ibu Wenning adalah seorang janda yang
mempunyai 3 orang anak. suami yang seharusnya menjadi tonggak di dalam keluarga
,yang seharusnya menjadi penopang bagi anak istri, tapi tidak bagi suami ibu
wenning,ia lebih memilih meninggalkan keluarga tercinta dan pergi bersama
wanita lain, namun’ tak lantas membuat ibu wenning menderita,ia tetap bijaksana
dalam mengambil keputusan.Dengan adanya
anak-anak ia merasa bersemangat dalam menjalani hidup, ia tak ingin larut dalam
kegunda gulauan,ia tak ingin menghancurkan ke 3 buah hatinya.. Bekerja,mencari
nafkah,menafkahi lahir bathin keluarga,itu semua di lakoni olehnya,menjadi ibu
sekaligus menjadi ayah bgi anak-anaknya itu sudah di fikirkan nya matang.Baginya' anak-anak
adalah harta yang paling berharga yang ia miliki,biar ia tak bahagia,yang
penting anak bahagia,biar ia tak makan,asalkan anak makan,biar ia tak
sukses,asalkan anak sukses, pada intinya ia berharap agar anak-anaknya kelak tak
sepertinya,Ibu Wenning
bekerja sebagai staf office di PT.Taman wisata candi prambanan,pekerjaan inilah
yang menopa hidupnya dan anak-anak,selain menjadi staf office di PT.Taman wisata
candi prambanan,ia mencoba menjalankan usaha kecil lainnya,agar anak-anak dapat
hidup layak dan sejahtera.Apapun akan di
lakukan demi buah hati tercinta, bagi Ibu Wenning,yang berlalu biarlah
berlalu,kini saatnya ia hidup mandiri’tanpa belas kasihan orang, ia tetap
berjuang membawa seuntai keyakinan.Berpijak pada
keyakinan yang tepat,bergantung pada dinding kesabaran yang kokoh,ia bertekad
untuk menjadi yang terbaik bagi anak-anak nya dan orang banyak. Ibu wenning
adalah orang yang baik,mempunyai karakter riang,senang besenda gurau,selalu
ceria di setiap harinya,tak peduli akan status ,tak peduli akan apa kata orang
tentang nya, ia tetap berjuang penuh semangat ,meraih masa depan yang lebih
cerah bersama kebanggaan hatinya. Teringat aku
sewaktu masih berada di sana ,ia sangat baik terhadapku,ia perlakukan aku bak
anak kandung nya sendiri, tatapan mata nya yang binar,memancarkan rasa sayang yang
amat mendalam,Apabila siang
tiba ia mengajakku untuk makan siang di ruangannya,ia memberikan makanan
seadanya padaku,dengan senang hati aku ikut bergabung untuk makan di meja
kerjanya, layaknya ibu dan anak yang sedang menyantap makanan bersama. Masih ku ingat
pula Tupperware pemberiannya,kebetulan ibu Wenning suka mempergunakan paralatan-peralatan
Tupperware lainnya ,dan ia telah menjadi member pada perusahaan terkait, maka
dari itu ‘ Ibu Wenning memberiku 1 Tupperware cantik yang sampai sekarang masih
ku simpan. Setelah tiba
saatnya aku untuk pulang ke daerah asalku,hati ini berat untuk meningggalkan
mereka yang ku sayang, Ibu Wenning sudah ku anggap seperti orang tua ku
sendiri,ia juga sukar membantu segala kesusah payahan yang ku alami selama ku
training di PT.Taman wisata candi prambanan. Mau tidak mau aku harus meniggalkan mereka
yang ku sayang, tapi bukan berarti aku melupakan mereka selamanya, aku harus
melanjutkan perkuliahan di kota asalku, jika umur panjang,jika tak ada arah
melintang aku akan temui mereka-mereka yang telah melukis fenomena kehidupan di
dalam ragaku, Terimakasih Ibu
Wenning’terimakasih semua .Ibu harus tetap
kuat ,aku salut pada ketegaran ibu, senyuman yang sama sekali tak
mengisyaratkan kepunahan,tetap ibu pelihara..Saya banyak
belajar dari Ibu Wenning, tentang kehidupan yang fana ini, tentang pahit manis
kehidupan ,serta keselarasan menjalani
hidup. Suatu saat nanti
,allah akan mempertemukan kita kembali, silahturahmi bersama ibu akan selalu
aku rindukan….amiin!!!
No comments:
Post a Comment